Di bidang pariwisata, Kabupaten Fak Fak memiliki beberapa situs budaya yang dapat menjadi daya tarik bagi peningkatan pembangunan di bidang pariwisata. Beberapa pusat wisata baik ekoturisme keindahan laut, peninggalan pra sejarah, keindahan alam hutannya belum membuat wisatawan mancanegara maupun domestik yang berkeinginan untuk mengunjungi Kabupaten Fak Fak dikarenakan rendahnya dan kurang memadai sarana dan prasarana penunjang pariwisata baik transaportasi darat maupun udara.

Potensi wisata di Kabupaten Fak Fak saat ini belum tersentuh oleh investor baik dari dalam maupun luar negeri. Obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi sebagai tempat pariwisata antara lain,

  • Desa Ubadari (sumber air),

Kokas adalah sebuah distrik di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Indonesia. Jarak Kokas dari pusat pemerintahan kabupaten hanya sekitar 50 km namun harus ditempuh dengan jalan darat dan air. Jalan darat untuk menghubungkan Fakfak dengan pusat Distrik Kokas sudah dirintis sejak 1970-an namun belum selesai.

Kokas menyimpan banyak peninggalan masa lalu dengan rentang waktu dari masa prasejarah hingga sejarah modern Indonesia. Di terdapat masjid tertua di Kabupaten Fakfak yaitu Masjid Tua Patimburak yang terletak di kampung Patimburak yang berusia lebih dari 200 tahun. Wilayah ini pernah menjadi wilayah Kesultanan Tidore.[1]

Di daerah Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras ditemukan berbagai cap tangan berwarna oker kemerahan yang melekat pada dinding-dinding batu di pinggir laut.[2] Objek arkeologi ini dikenal sebagai Situs Purbakala Kokas atau oleh masyarakat setempat biasa disebut Tapurarang. Cap-cap tangan dan lukisan objek-objek lainnya ini memiliki kemiripan dengan beberapa lukisan dinding seperti di Sangkulirang, Kutai Timur, Kalimantan Timur, atau di Gua Leangleang. Selain itu terdapat pula gua persembunyian tentara Jepang, peninggalan masa Perang Pasifik (1941-1945).[3]

Situs Purbakala Kokas adalah situs purbakala yang terdapapat di Kokas, Fakfak Papua Barat. Di tempat ini ditemukan berbagai cap tangan berwarna merah yang terlukis pada dinding-dinding batu di tebing dan gua yang terletak di pinggir laut. Obyek wisata arkeologi ini dikenal sebagai situs purbakala Kokas atau oleh masyarakat setempat biasa disebut dengan nama Tapurarang. Karena warna merah pada lukisan cap tangan di tebing tersebut menyerupai warna darah manusia, masyarakat setempat juga sering menyebut Tapurarang sebagai lukisan cap tangan darah.[1]

Cap-cap tangan yang ditemukan di Kokas memiliki kemiripan dengan beberapa lukisan dinding seperti yang terdapat di Sangkulirang (Kutai Timur, Kalimantan Timur) atau di Gua Leangleang (Maros, Sulawesi Selatan). Di Distrik Kokas, Tapurarang yang merupakan kekayaan peninggalan zaman pra sejarah ini bisa dijumpai di beberapa tempat antara lain di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras

  • Goa peninggalan Jepang pada waktu Perang Dunia II,

Masjid tua Patimburak adalah sebuah masjid tua bersejarah dan terletak di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam di Papua dan menjadi sebagai salah satu pusat agama Islam di Kabupaten Fakfak.

Masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai Masjid Tua Patimburak. Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun yang lalu, bahkan merupakan masjid tertua di Kabupaten Fakfak. Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dibangun pada tahun 1870, seorang imam bernama Abuhari Kilian.

Pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.

Menurut Musa Heremba, penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad XV, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.

Aura tradisional muncul saat menyambangi lokasi masjid tua ini. Di kampung yang dihuni tak lebih dari 35 kepala keluarga tersebut didapati kesederhanaan yang menyatu dari bangunan masjid dan kehidupan masyarakatnya.

Sekilas bangunan masjid seluas tidak lebih dari 100 meter persegi ini tampak biasa. Namun coba perhatikan lebih seksama. Masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturnya, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja. Musa Heremba, imam Masjid Patimburak mengaku bangunan masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Meski mempertahankan bentuk aslinya, namun material asli yang belum diganti adalah empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid.

Di pelataran masjid, sebuah pohon mangga kokoh berdiri. Namun, bukan sembarang pohon mangga. Dari ukuran batangnya, bisa dipastikan usia pohon raksasa ini tak terpaut jauh dengan usia masjid. Syahdan, perlu empat rentang tangan orang dewasa untuk merengkuh keseluruhan batang pohon ini.